Dilansir oleh kompas, ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) menyebutkan selama 10 tahun terakhir banyak sekali penipuan investasi ilegal. Dan total kerugian yang dialami oleh masyarakat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir adalah sebesar 92 Trilyun. Penulis melihat beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi, salah satunya adalah salah persepsi mengenai investasi yang aman dimasyarakat luas.

ilustrasi_salah persepsi investasi aman_photo_by_austin_distel_on_unsplash.
ilustrasi_investasi_photo_by_austin_distel_on_unsplash

Salah Persepsi Investasi Aman Masyarakat Indonesia

Pertama, Unsur Legalitas

Walau pun tidak memiliki legalitas yang lengkap, masyarakat Indonesia cenderung tidak mempermasalahkan. Contoh yang paling terbaru adalah Real Sultan, dimana menjanjikan imbal balik 150 juta dengan mendaftar member sebesar 1,5 juta. Banyak sekali yang mengikuti program tersebut dan kemudian pada akhirnya SCAM.

Untuk legalitas sendiri, perusahaan atau entitas yang mengadakan jenis investasi atau mengumpulkan uang di masyarakat. Harus memiliki izin khusus dari Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Namun ada juga beberapa entitas ilegal, yang menyamarkan hal tersebut dalam bentuk paket atau level yang menawarkan keuntungan.

Legalitas ini sangat penting karena dengan hal tersebut, perusahaan ada yang mengawasi. Kita bisa melihat yang legalitas lengkap saja bisa kecolongan seperti Jiwaseraya dan lain-lain. Apalagi yang tidak mempunyai legalitas yang lengkap dalam usahanya.

Untuk mengecek suatu perusahaan legal atau tidak kalian bisa cek di website Kemenkumham, kamu tinggal ketikan saja nama PT nya kemudian tinggal dicari (https://ahu.go.id/profil-pt/). Atau kalian juga bisa mengecek suatu entitas investasi itu ilegal atau legal dengan WA nomor resmi OJK di nomor (081157157157), dengan mengetikan nama perusahaanya.

Kedua, Return Yang Tinggi

Yang menyebabkan banyaknya orang yang terjebak dalam bisnis investasi ilegal, antaralain tergiur dengan return yang sangat tinggi. Mulai dari 10% perbulan sampai dengan 1% per hari, padahal suku bunga yang aman bisa mengacu kepada suku bunga Bank. Dimana suku bunga yang ditawarkan oleh bank adalah suku bunga untuk jangka waktu setahun. Jadi untuk satu bulannya bank hanya membayarkan 0,5% dari modal yang di setorkan oleh nasabah.

Selain dari return yang tinggi biasanya masyarakat juga tergiur dengan kata aman (bergaransi) atau dijamin akan kembali. Padahal saham juga dengan return yang tinggi jelas berbanding lurus dengan risiko yang tinggi juga. Namun hal ini sering dilupakan di tengah masyarakat dan banyak yang terjebak dalam investasi ilegal.

Ketiga, Yang Penting Membayar

Sebagian masyarakat yang mengikuti investasi ilegal biasanya tidak mempedulikan resiko dan legalitas. Banyak yang berfikir bahwa hal tersebut tidak di perlukan apabila memang suatu bisnis atau aplikasi membayar konsumennya. Jelas merupakan pemikiran yang salah, karena biasanya bisnis ilegal menggunakan sistem referal. Maka apabila terjadi kerugian berdampak juga kepada orang lain yang telah diajak.

Keempat, Percaya Oknum Polisi, TNI sampai PNS

Entah kebetulan atau tidak, setiap investasi ilegal biasanya menggunakan oknum Polisi, TNI sampai PNS untuk mempromosikan bisnisnya. Oknum ini juga dijadikan oleh member sebagai bahan promosi biasanya setelah ada muncul dalam daftar investasi ilegal. Mereka mengelak bahwa bagaimana mungkin bisnis ilegal tapi diikuti oleh oknum Polisi, TNI sampai PNS. Namun nalarnya seharusnya tidak mengarah kesana, tetapi apakah bisnis narkoba menjadi legal, ketika yang menjual oknum polisi? Jelas tidak.

Kelima, Terlalu Percaya Upline

Suatu perusahaan investasi ilegal atau bisnis ilegal yang sedang mengalami masalah, misalkan masuk ke dalam radar OJK. Biasanya upline menenangkan downlinenya dengan informasi yang salah. Contoh terbaru ada pada aplikasi vtube, dimana ketika SWI (Satgas Waspada Investasi) melarang aplikasi tersebut. Banyak upline yang berkelit bahwa hal tersebut karena Vtube tidak memerlukan izin OJK dan hanya perlu izin Kominfo karena berbasis digital dan banyak member yang percaya hal tersebut.

Padahal SWI merupakan bagian dari OJK, tetapi terintegrasi juga dengan beberapa kementrian dan lembaga terkait investasi. Mengapa SWI melarang salah satunya adalah izin usaha industri vtube tidak sesuai dan izin kominfo yang dibuat untuk berkelit telah dicabut sesuai rekomendasi SWI.

Dan ketika tahu bahwa izin PSE Kominfo tidak bisa diakses upline mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebijakan perusahaan karena sedang mengurus izin ecommerce. Padahal pada kenyataanya izin Ecommerce memerlukan persyaratan Kominfo.

Padahal saat ini dengan adanya google sangat mudah untuk mencari sesuatu. Baik dalam proses perizinan, perusahaan ilegal atau legal dan lain-lain.

Keenam, Kurang Literasi dan Latah

Majunya perkembangan zaman, tidak diikuti dengan literasi yang baik oleh masyarakat. Tidak jarang sekelas Dosen sampai Imam Masjid tertipu dengan investasi ilegal. Biasanya mereka tertipu dengan model investasi baru, seperti menggunakan aplikasi, robot atau perkoinan digital. Kekurangan masyarakat kita selain kurang literasi cenderung latah, melihat ada orang yang posting tentang pendapatannya lewat media sosial langsung tergoda untuk terjun tanpa tahu menahu informasi terkait “investasi” tersebut.

Jenis Investasi Ilegal

Ada beberapa jenis investasi ilegal yang ada, diantaranya adalah:

Skema Piramida

Skema Piramida adalah skema yang keuntungan atau bonus yang didapat dari keikut sertaan member baru. Biasanya dalam skema ini akan membentuk piramida, dimana satu orang minimal harus mengajak dua orang lain untuk bergabung. Hal ini sering dilakukan oleh MLM yang tidak memiliki kualitas produk yang mumpuni dan menawarkan bonus keikutsertaan anggota.

Ada juga pengembangan dari skema piramida ini yaitu trinary dan skema matahari. Dimana untuk trinary diharuskan satu anggota memiliki 3 orang member nantinya akan membentuk segitiga piramida juga. Sedangkan, untuk skema matahari biasanya tidak ada batasan atau minimal member yang diajak semakin banyak semakin bagus dan nantinya akan membentuk lingkaran.

Skema Ponzi (Money Game)

Skema ini hampir sama dengan skema piramida akan tetapi keuntungan dan bonus yang didapatkan berasal dari uang yang member setorkan baik orang lain maupun dirinya sendiri. Misalkan A investasi ke perusahan B sebanyak 10 rupiah dengan janji keuntungan 10%/hari, maka keuntungan yang didapatkan A adalah berasal dari uangnya sendiri atau dari orang lain.

Hal ini mudah untuk diidentifikasi apakah suatu investasi merupakan skema ponzi atau bukan. Bisa dilihat dari perputaran uang hanya antar member dan/atau menawarkan rate yang tinggi (tidak normal). Bunga atau rate yang normal adalah mengikuti suku bunga acuan perbankan itu merupakan acuan tertinggi dalam satu tahun. Bagaimana dengan investasi saham yang bisa lebih tinggi? Biasanya mereka menjanjikan keuntungan yang tetap sedangakan investasi saham tidak melulu untung.

Monkey Business

Pada sistem bisnis ini biasanya adalah permainan harga yang dilakukan oleh Orang atau Kelompok. Hal ini dilakukan pada barang-barang yang biasanya kita anggap tidak ada harganya menjadi sangat mahal dan berharga. Contohnya seperti Batu Akik, Janda Bolong dan lain-lain.

Baca Selengkapnya tentang Monkey Business Disini!

Investasi Berkaitan Dunia Digital

Untuk sekarang ini banyak sekali investasi ilegal yang mengatasnamakan dunia digital. Seperti melakukan sesuatu (bermain game, nonton video dan lain-lain)mendapatkan uang, uang digital dan lain-lain. Hal ini banyak bermunculan karena kurangnya pengetahuan yang ada di masyarakat terkait hal tersebut.

Nah itulah pemaparan terkait salah persepsi investasi aman, hal ini ditulis berdasarkan pengalaman melihat postingan dari sekarang yang menjadi korban investasi ilegal seperti EDC Cash, Batu Vulkanik, Real Sultan dan lain-lain.

Sumber:

https://money.kompas.com/read/2020/05/29/055000726/kerugian-masyarakat-akibat-investasi-bodong-capai-rp-92-triliun