Belajar Ekonomi Islam: Kewajiban Mempelajari Muamalah Bagi Muslim

Sekarang ini sangat banyak bisnis dan transaksi yang berkembang di masyarakat. Mulai dari cicil emas, pinjaman online, transaksi online dan masih banyak yang lainnya. Mulai kaburnya perkara halal dan haram (syubhat) suatu transaksi. Oleh karena itu saya akan membahas terkait “Kewajiban Mempelajari Muamalah Bagi Muslim”.

Apa itu Muamalah?

Muamalah adalah kegiatan atau hubungan antara manusia. Dalam muamalah terdapat berbagai aturan yang telah ditetapkan oleh Allah terkhusus dalam bidang bisnis (transaksi), hal ini sudah dirangkum dalam bab fikih muamalah oleh para Ulama.

Bentuk dari muamalah antara lain seperti Hutang-Piutang, Jual-Beli, Sewa-Menyewa dan yang lainnya. Tujuan adanya aturan yang mengatur muamalah adalah agar tidak ada seorang pun terdzholimi dalam suatu transaksi.

Seberapa Pentingnya Mempelajari Muamalah?

Pentingnya mempelajari Mualamah ini bisa dilihat dari bagaimana sikap tegas Rasulullah SAW bersabda kepada sahabatnya Hakim bin Hizam yang artinya,

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu manis dan indah. Oleh karena itu siapa mengambilnya dengan tanpa ketamakan hati, maka akan diberkahi. Adapun yang mengambilnya karena ketamakan (tanpa memperhatikan halal haram), maka tidak akan diberkahi. Itulah seperti orang yang makan, tapi tidak merasa kenyang..”

Muttafaqun’alaih

Rasulullah SAW juga pernah keluar menuju tanah lapang. Beliau melihat orang-orang berdagang di situ. “Wahai para pedagang…” seru beliau, seluruh wajahpun tertuju kepada beliau. Beliau melanjutkan,

“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan durhaka, kecuali orang yang bertakwa kepada Allah, berbuat kebajikan dan bersedekah.” 

(HR. Tirmizi 3/515)

Begitupun Khalifah Umar bin Khatab memberikan pernyataan yang tegas kepada para pedagang di Madinah. Beliau mengatakan,

“Tidak boleh berjualan di pasar-pasar umat Islam orang yang tidak mengetahui halal dan haram. Sehingga iapun terjatuh pada riba dan menjerumuskan kaum muslimin pada riba..”

(Ihya’ ‘ulumuddin 2/59, dikutip dari Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashiroh hal. 8)

Tujuan Mempelajari Muamalah

  • Mengetahui Harta Syubhat dan Dapat Membedakan Harta Halal dan Haram

Perkara syubhat merupakan perkara yang hukumnya masih samar atau tidak diketahui halal-haramnya. Penting mengetahui perkara iniz karena dengan tanpa disadari akan membuat orang dapat terjatuh kepada perkara haram. Abu ‘Abdillah An-Nu’man bin Basyir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).”

(HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Dalam membedakan halal-haram ini sangat penting, dikarenakan ancaman bagi orang yang memakan harta haram tidak main-main. Salah satunya adalah tertolaknya doa orang yang memakan harta haram. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang yang menempuh perjalan jauh (musafir). Sampai rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu menengadahkan kedua tangannya ke arah langit seraya berdo’a: “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku…” Padahal, makanan yang ia makan haram, minumannya haram, pakaiannya juga haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimana Allah akan mengabulkan do’anya bila seperti ini…?!”

(HR. Muslim, no. 1015)
Baca Juga: Kritik Praktek Ekonomi Islam di Indonesia
  • Tidak Mengambil Harta Orang Lain dengan Cara yang Bathil

Belajar tentang muamalah juga akan menghindarkan kita dari mengambil harta orang lain dengan cara yang bathil atau tidak sah menurut agama. Padahal Allah melarang perkara tersebut, Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, Jangan kamu memakan harta-harta saudaramu dengan cara yang batil, kecuali harta itu diperoleh dengan jalan dagang yang ada saling kerelaan dari antara kamu. Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepadamu”.

Qs. An Nisa: 29
  • Dapat menghindari Maghrib (Maisyir, Gharar dan Riba)

Dalam muamalah ada tigal hal pokok yang dilarang dalam transaksi yaitu Maisyir (perjudian), Gharar (penipuan) dan Riba (Bunga/ Pertambahan). Agar harta kita tetap halal maka wajib bagi kita untuk mempelajari tiga perkara tersebut dan turunannya.

Kesimpulan dari pemaparan diatas adalah sangat penting bagi muslim untuk mempelajari muamalah, agar dapat menghindari perkara syubhat dan haram. Dimana harta atau transaksi yang haram dapat menyebabkan tertolak doa dan paling seram dapat memasukan kita ke dalam neraka. Wallahu Alam.

Sekian artikel kali ini yang membahas tentang “Kewajiban Mempelajari Muamalah Bagi Muslim”, semoga bermanfaat. Apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam artikel tersebut maka bisa mengirimkan email kepada saya admin@luminesia.com.

Artikel selanjutnya insyaAllah akan terus membahas tema “Belajar Ekonomi Islam” dan akan ada versi video nya. Jangan lupa untuk subcribe websitenya dan share ke semua sosmed mu apabila bermanfaat. Terimakasih.

Like Fanspage Luminesia disini dan Follow juga Instagramnya @luminesiadotcom.

Best Regard,

Athif Amirudin Muhtadi, S.E.
Sarjana Ekonomi Islam – Universitas Siliwangi

Leave a Reply

Scroll to top