Bank Syariah Haram?

Pengalaman ketika di Lembaga Keuangan Syariah yaitu mempromosikan salah satu produknya yaitu Pembiayaan Rumah Istishna, saya mendapatkan WA berasal dari calon konsumen yang isinya kurang lebih seperti ini, “Yah saya kira kreditnya langsung ke Developer, kalau yang namanya Bank Haram. Mau Bank Konvensional ataupun Bank Syariah Haram .”

Bank Syariah Haram
Bank Syariah Haram

Sedikit miris membaca hal tersebut, karena ternyata dimasyarakat ada pemahaman yang keliru terkait “Haramnya Bank”. Padahal yang diharamkan itu transaksi Riba pada Bank yang bersangkutan dan yang perlu digaris bawahi adalah yang haram dari Riba itu adalah transaksinya bukan dzatnya. Maka dari itu kita tidak bisa justifikasi BANK HARAM karena tidak semua transaksi yang dilakukan Bank dilarang. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah Fiqh yaitu,

“Hukum asal dari Muamalah adalah Boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

Sebenarnya justifikasi Bank Haram secara mutlak ini cukup berbahaya, karena Bank masih memiliki produk atau transaksi yang halal. Jangan sampai kita menyerupai Yahudi dan Kafir pada zaman dulu yang mengatakan bahwa jual-beli sama dengan riba, karena pendapat mereka tersebut mereka mendapatkan ancaman dari Allah SWT,

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)

Mengapa ada anggapan Bank Syariah Haram?

Suatu hal yang harus diakui juga bahwa Bank Syariah mendapatkan cap haram atau sama dengan Bank Konvensional, dikarenakan banyak pada prakteknya tidak menjalankan Ekonomi Islam secara menyeluruh seperti,

  • Praktek akad mudharabah dengan penjaminan,
  • Restrukturisasi Akad dengan margin yang ditambahkan,
  • Murabahah dengan barang yang tidak dimiliki sepenunya sebelumnya,
  • Akad Mudharabah dengan proyeksi keuntungan (bagi hasil tetap),
  • Kredit Emas,
  • Administrasi Pembiayaan yang tidak jelas penggunaannya
  • dan Denda keterlambatan.

Transaksi Aman dalam Produk Perbankan

Beberapa transaksi yang aman dari produk perbankan antaralain,

  • Transfer
  • Safe Deposit Box
  • Tabungan dengan Akad Wadiah
  • Pembayaran listrik, telepon dan lain-lain.
  • Pinjaman Uang tanpa ada penambahan keuntungan (Qardhul Hasan)

Yang harus digaris bawahi adalah Lembaga Keuangan tidak sepenuhnya (transaksi) haram, yang harus diperhatikan dalam mengambil kesimpulan suatu transaksi itu halal/ batal/ haram adalah Skema alur bagaimana transaksi itu berjalan. Ketika kita mengetahui alurnya, kita akan bisa menyimpulkan bahwa transaksi itu termasuk kedalam akad Jual-Beli, Sewa-Menyewa, Tukar-Menukar atau Hutang-Piutang. Karena setiap akad memiliki syarat dan ketentuan yang berbeda dan mengikat.

Kasus transaksi ribawi yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari yang mungkin jarang kita sadari adalah ketika kita menukarkan beras dengan beras.

Lihat Juga: Kartu Kredit Bunga Nol Persen bagaimana hukumnya?

Contoh A membeli beras ke B, setelah dibawa kerumah A kurang puas dengan kualitas beras X yang dibeli. Kemudian A menukarkan beras X tersebut dengan beras yang kualitasnya lebih bagus yaitu Beras Z kepada B. Baik dalam timbangan berat Beras X dan Beras Z yang berbeda atau Beras X ditukar dengan beras Z akan tetapi A menambahkan uang lebih kepada B maka ini termasuk riba fadhl. Rasulullah SAW bersabda,

Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Hal yang wajar bahwa masyarakat menjadi rancu antara transaksi yang dihalalkan/ diharamkan atau adanya pendapat Bank Konvensional sama dengan Bank Syariah. Karena kurangnya akademisi Ekonomi Islam dalam mengedukasi masyarakat disekitarnya dan para praktisi belum menerapkan Ekonomi Islam secara penuh.

Tulisan diatas merupakan unek-unek atau pikiran penulis pribadi. Apabila terdapat perkataan dan tulisan yang salah dan kurang berkenan bisa mengirimkannya melalui email athif_am@hotmail.com . Terimakasih Telah Berkunjung.

Jangan Lupa Share, Like dan Komen.

Follow Media Sosial: Instagram (@athif_am) dan Twitter (@athif_am)

One thought on “Bank Syariah Haram?

Leave a Reply

Scroll to top