Ada Transaksi Riba di Sekitar Kita

Riba, merupakan salah satu yang dilarang oleh agama Islam dan beberapa Agama lainnya. Dalam Islam, Riba merupakan salah satu dari dosa besar. Maka dari itu artikel ini akan membahas tentang transaksi riba yang tanpa kita sadari ada disekitar kita. Sangat pentingnya belajar tentang riba ini, Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah melarang orang untuk berdagang apabila belum mengetahui ilmu tentang Riba. Beliau mengatakan,

Tidak boleh berjualan di pasar-pasar umat Islam orang yang tidak mengetahui halal dan haram. Sehingga iapun terjatuh pada riba dan menjerumuskan kaum muslimin pada riba..

Umar Bin Khattab

Sekilas tentang Riba

Riba, menurut bahasa adalah bertambah, jadi segala sesuatu yang bertambah merupakan riba. Sedangkan menurut Istilah ada beberapa pengertian antaralain:

  • Menambahkan beban kepada pihak yang berhutang
  • Tukar-menukar barang sejenis dengan tambahan dan termasuk 6 komoditi (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam)
  • Jual-beli atau tukar-menukar emas dengan perak/ uang dan makanan dengan makanan secara tidak tunai \

Kesimpulannya, riba banyak jenisnya ada dalam hutang-pihutang, tukar-menukar dan jual-beli tidak tunai. (Referensi: Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer – Dr. Erwandi Tarmizi, MA.)

Pandangan Berbagai Agama tentang Riba

Selain agama Islam, ternyata Riba juga dilarang di berbagai agama lainnya, antara lain:

Pandangan Agama Yahudi tentang Riba

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin diantaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia: janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya”.

Kitab Exodus pasal 22 ayat 25

Pandangan Agama Kristen tentang Riba

“Dan, jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan menerima sesuatu darinya, apakah jasamu? Orang – orang berdosa pun meminjamkan kepada orang berdosa supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihanilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak – anak Tuhan Yang Mahatinggi sebab Ia baik terhadap orang – orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang – orang jahat”.

Injil Perjanjian Baru (Lukas: 34-35)

Pandangan Agama Hindu

Di India Kuno hukum yang berdasarkan Weda, kitab suci tertua agama Hindu, mengutuk riba sebagai sebuah dosa besar dan melarang operasi bunga (Gopal, 1935: Rangaswani, 1927). Vasishtha, pembuat hukum Hindu yang terkenal sepanjang waktu, membuat hukum khusus melarang kasta yang lebih tinggi Brahmana dan Ksatria, meminjamkan dengan bunga (Visser dan Mcintosh, 1998). (Referensi: Jurnal Riba dalam Berbagai Agama oleh M. Suyatno)

Macam-Macam Riba

Secara garis besar riba dibagi menjadi dua, yaitu riba dalam hutang-piutang dan riba dalam jual-beli. Kelompok hutang-piutang dibagi menjadi Riba Qardh dan Riba Jahiliyah, sedangkan kelompok jual-beli dibagi menjadi dua juga yaitu Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah. (Referensi: Bank Syariah: dari Teori ke Praktek – Muhammad Safi’i Antonio)

  • Riba Qardh adalah tambahan yang disyaratkan dalam hutang-piutang.
  • Riba Jahiliyah adalah tambahan dalam hutang-piutang yang disebabkan adanya keterlambatan dari pembayaran hutang.
  • Riba Fadhl adalah pertukaran antara barang ribawi yang termasuk kedalam 6 komoditi yaitu emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam dengan kadar atau takaran yang berbeda.
  • Riba Nasi’ah adalah adanya penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya.

Ancaman bagi Pelaku yang Melakukan Transaksi Riba

Siapa saja yang termasuk Pelaku Riba?

Pelaku Riba yang diancam mendapatkan laknat ada 4 orang, antara lain orang yang menerima (pemakan riba), memberi (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba dan saksi-saksi yang menyaksikan riba. Nabi Muhammad SAW bersabda,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

(HR. Muslim no. 1598)

Jadi tidak ada alasan bagi nasabah yang ingin meminjam dengan mengatakan “kan saya tidak memakan riba”. Sesuai dengan hadits diatas bahwa baik yang menerima atau penyetor merupakan satu kesatuan dalam dosa Riba.

Apa saja Ancaman yang didapatkan oleh Pelaku Riba?

Riba Merupakan Dosa Besar

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah itu?” Beliau dan menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”.

(HR. al-Bukhâri, no. 3456; Muslim, no. 2669)

Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali 

(HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih mengatakan bahwa hadits ini sahih)

“Riba memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya.” 

(HR.  Ath-Thabrani. Lihat silsilah shahihah no. 1871).
Ancaman di Dunia Bagi Pemakan Riba
Memakan Riba Sama Dengan Mendeklarasikan Perang dengan Allah dan Rasulnya

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

(Qs. Al-Baqarah : 278-279)

Ketika kita memerlukan bantuan Allah lah yang menjadi penolong? Lalu bagaimana apabila kita mendeklarasikan perang dengan Allah dan Rasul-Nya? Akankah mendapatkan bantuan? Bukankah kita mengharapkan Syafaat Rasulullah pada saat di akhirat nanti, lalu bagaimana dengan kita yang mendeklarasikan perang dengannya?

Menghalalkan Adzab Allah di Dunia

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila zina dan riba telah tampak nyata dalam suatu kaum, maka mereka benar-benar menghalalkan adzab Allah terhadap mereka“.

(HR. Ibnu Abbas, dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz- Dzahabi)
Kehancuran untuk Hartanya (Baik Konkrit dan Abstrak)

Maksud dari konkrit adalah hartanya benar-benar habis, sedangkan untuk abstrak adalah kehilangan keberkahan dalam hartanya. Allah SWT berfirman,

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.

(Qs. Al-Baqarah: 276)

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW Bersabda:

Riba membuat sesuatu jadi bertambah banyak. Namun ujungnya riba makin membuat sedikit (sedikit jumlah, maupun sedikit berkah, -pen.).”

(HR. Ibnu Majah, no. 2279; Al-Hakim, 2: 37. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Doanya Tidak di Kabulkan oleh Allah

Rasulullah SAW Bersabda,

“Ada seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?

(HR. Muslim, no. 1014)
Sedekah dari Harta Riba Tidak Akan Mendapatkan Pahala

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”

(QS. Ar-Ruum: 39)

Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik.

(HR. Muslim)

“Jangan membuatmu takjub, seseorang memperoleh harta dengan cara yang haram. Jika dia infakkan atau sedekahkan maka tidak akan diterima.

(HR Thabrani dan Baihaqi)
Ancaman di Akhirat Bagi Pemakan Riba
Bangkit dari Kubur seperti kerasukan setan

Dari ‘Auf bin Malik, dia berkata: RasûlullâhShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah dosa-dosa yang tidak terampuni: ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi; khianat; korupsi). Barangsiapa melakukan ghulul terhadap sesuatu barang, dia akan membawanya pada hari kiamat. Dan pemakan riba. Barangsiapa memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila, berjalan sempoyongan.” Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (ayat yang artinya), “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”.

(HR. Thabrani di dalam Mu’jamul Kabîr, no. 14537; al-Khatib dalam at-Târîkh. Dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahîhah, no. 3313 dan Shahîh at-Targhîb, no. 1862)
Berenang di Sungai Darah

Dari Samurah bin Jundub, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tadi malam aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di pinggir sungai ada seorang laki-laki yang di depannya terdapat batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekat, jika dia hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki yang di sungai itu datang hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Orang yang engkau lihat di dalam sungai itu adalah pemakan riba’”.

(HR. Al-Bukhari)
Yang tetap Menjalankan Riba Akan Dimasukan ke Dalam Neraka dan Kekal Didalamnya

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

(Qs. Al-Baqarah : 275)

Baca Juga: Kewajiban Setiap Muslim untuk Mempelajari Muamalah

Transaksi Riba di Sekitar Kita

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari banyak kegiatan yang termasuk kedalam riba, baik dalam hutang-pihutang, tukar-menukar dan jual-beli tidak tunai. Berikut beberapa kegiatan yang termasuk dalam kegiatan riba, antaralain:

Riba pada Hutang Piutang

Beberapa contoh riba pada hutang piutang, antaralain:

  • Seseorang yang memberikan persyaratan untuk menambahkan uang ketika peminjam mengembalikan modal. Contohnya, seseorang meminjamkan 10 keping emas, dengan persyaratan apabila dilunasi pada tempo nya dibayar 11 keping emas.
  • Memberikan keringanan dalam membayar hutang atau menangguhkan pembayaran dengan syarat adanya tambahan. Seperti, “akan saya beri tangguh, dengan syarat adanya tambahan”.
  • Seseorang yang meminjamkan modal 100 keping emas dan setiap bulan disyaratkan untuk menyicil dengan tambahan.
  • Adanya pembayaran denda apabila terjadi keterlambatan pembayaran hutang.

Transaksi Riba di Bank Konvensional

Yang harus dipahami bahwa bank itu merupakan salah satu sarana lembaga keuangan dan hukum asalnya adalah mubah, kecuali dalam transaksinya terdapat yang dilarang oleh Allah SWT. Ada beberapa transaksi bank konvensional yang termasuk kedalam riba, antaralain:

  • Bunga dalam pinjaman hutang, tabungan dan deposito.
  • Denda apabila terjadi keterlambatan pembayaran hutang.

Beberapa transaksi yang diperbolehkan dilakukan di Bank Konvensional antaralain:

  • Biaya administrasi pada tabungan (kecuali tabungan dengan pertambahan bunga).
  • Transfer uang dengan biaya administrasi.
  • Sewa save deposit box yang disediakan untuk menyimpan barang berharga nasabah. Seperti Surat Tanah, Ijazah, Emas dan lain-lain.
  • Mempermudah hubungan transaksi antar-negara seperti ekspor-impor dan transfer uang keluar nergeri.
  • Tukar-menukar mata uang asing dengan cara tunai.

Transaksi Riba di Bank Syariah

Transaksi riba juga ada di Bank Syariah, hal ini terjadi karena adanya praktek yang tidak sesuai dengan Fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional-MUI. Ada pun praktek transaksi di Bank Syariah yang mengandung riba antaralain:

Mudharabah di Bank Syariah

Sebenarnya akad Mudharabah bukan termasuk ke dalam akad hutang-piutang, tapi merupakan akad kerjasama (investasi). Dalam akad mudharabah yang menjadikannya berbeda dari kredit pinjaman modal adalah pemegang modal siap untuk menanggung kerugian, apabila yang dipinjami tidak bisa membayar. Dengan pengecualian si peminjam melakukan kelalaian dan kecurangan, pemilik modal tidak bisa meminta ganti rugi apabila usaha yang dijalankan merugi akibat force majure. Sesuai Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI tentang mudharabah, dijelaskan bahwa kerugian usaha menjadi tanggung jawab pemilik modal kecuali yang telah di sebutkan sebelumnya. Dan pemilik modal boleh meminta jaminan (bukan untuk mengganti rugi), agar peminjam modal mengerjakan pekerjaannya dengan jujur dan serius. Tidak bolehnya meminta ganti rugi dalam mudharabah, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,

“Tidak boleh ada keuntungan tanpa menanggung resiko kerugian”. 

Rasulullah SAW (Riwayat Ahmad dan Nasa’i, serta dishahihkan al-Albani)

Akad Mudharabah dalam pengembalian modalnya dan bagi hasilnya bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara dicicil atau membayar sekaligus ketika akadnya telah jatuh tempo (sesuai kesepakatan). Nah, apabila disepakati modal dan bagi hasil dicicil maka yang harus dibayar oleh peminjam adalah cicilan modal ditambah dengan bagi hasil dari keuntungan yang didapatkan bulan itu. Tidak boleh tambahan bagi hasil setiap bulannya tetap, akan tetapi harus sesuai dengan nisbah yang disepakati sebelumnya (tetap sampai akhir akad) dan keuntungan yang didapatkan setiap bulannya.

Praktek Mudharabah di Bank Syariah

Praktek mudharabah di Bank Syariah tidak memakai nisbah bagi hasil, akan tetap memakai proyeksi keuntungan, dimana Bank Syariah menerima tambahan tetap dari nasabah. Bank Syariah juga melakukan mudharabah tanpa mau menanggung resiko. Bahkan, ada yang mempraktekan memperpanjang tenor dengan kembali menambahkan bunga (mereka menyebutnya nominal bagi hasil). Dalam pinjaman mudharabah Bank Syariah tidak mau menanggung resiko, sedangkan dalam Deposito akad Mudharabah nasabah yang tidak mau menanggung resiko.

Seharusnya Bank Syariah bisa menerapkan bagi-hasil yang sesungguhnya, yang ditentukan oleh DSN-MUI. Karena Bank Syariah mempunyai instrumen untuk melakukan itu seperti BI Checking, cek laporan keuangan nasabah, survey ke warga sekitar tentang usaha nasabah. Untuk Deposito Syariah yang menggunakan akad Mudharabah, Bank Syariah seharusnya bisa memberikan pengertian kepada nasabahnya bahwa apabila terdapat kerugian nasabah harus siap menanggungnya. Apabila belum bisa menerapkan sepenuhnya minimal memberi pengertian dan memberi kesempatan bagi nasabah yang ingin menerapkan mudharabah sepenuhnya.

Kenapa hal seperti menanggung kerugian dan keuntungan tetap, tidak diperbolehkan dalam akad mudharabah? Karena tanpa adanya kedua hal tersebut dapat dipastikan Mudharabah sama dengan Peminjaman Uang yang ada di Bank Konvensional

Murabah di Bank Syariah

Murabahah secara singkat merupakan transaksi jual-beli dimana harga nya dinaikan dan bisa dibayar secara berangsur. Merujuk pada Fatwa DSN-MUI, Murabahah adalah akad jual-beli suatu barang dengan menegaskan harga dan membayarnya dengan harga yang lebih. Untuk lebih jelas dibawah akan dijelaskan bagaimana skema murabahah yang seharusnya di jalankan oleh Lembaga Keuangan Syariah:

  1. Terdapat 3 pihak dalam murabahah pihak A (pembeli), pihak B (penyedia barang) dan Pihak C (Lembaga Keuangan Syariah)
  2. Pihak A ingin membeli barang kepada pihak B, akan tetapi tidak memiliki dana yang cukup
  3. Kemudian pihak A mengajukan pembiayaan kepada pihak C
  4. Setelahnya Pihak C membeli barang dari Pihak B atas namanya sendiri.
  5. Dan pihak C menjual kembali barang tersebut kepada pihak A, dengan menyebutkan harga dasar serta laba yang diinginkan oleh pihak C. Pembayaran dilakukan oleh pihak A kepada pihak C dengan cara menyicil harga dasar barang ditambah margin yang telah disepakati.

Akad murabahah tidak perlu 3 pihak seperti diatas, tapi boleh dua pihak secara langsung antara pihak A dan pihak B. Pihak B dapat menentukan harga menjadi dua yaitu harga cash dan harga kredit. Nantinya pihak A membayar kepada pihak B secara dicicil.

Praktek Murabah di Bank Syariah

Di Bank Syariah pada prakteknya biasanya menghilangkan proses nomor 4 yaitu Lembaga Keuangan Syariah membeli barang dari penyedia barang atas nama sendiri. Bank Syariah memotong proses tersebut, dibeberapa bank syariah bahkan nasabah diberikan uang dan diminta untuk membeli barang sendiri. Padahal proses nomor 4 adalah pembeda dari kredit konsumtif yang ada di Bank Konvensional. Padahal dalam Fatwa DSN-MUI dituliskan secara jelas bahwa “Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba”.

Apakah penting Lembaga Keuangan membeli barangnya terlebih dahulu? Penting, karena tanpa adanya proses tersebut, maka pembiayaan yang dilakukan sama dengan Peminjaman Uang yang ada di Bank Konvensional. Dapat dilihat juga, apabila proses nomor 4 dihapuskan maka kalau diperhatikan skema pembiayaannya akan sama dengan Bank Konvensional dan ini merupakan transaksi Riba.

Kredit Emas di Bank Syariah

Sebelumnya kita harus mengetahui bahwa emas merupakan salah satu barang ribawi. Dan implikasi hukumnya pada jual beli adalah tidak boleh berbeda takaran dan pembelian harus dilakukan dalam satu majelis.

Dalil-Dalil Terkait Jual-Beli Emas

Terdapat beberapa hadits yang mengatur terkait jual-beli barang ribawi atau yang termasuk ke dalam 6 komiditi (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam), antara lain:

emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr, sya’ir dengan sya’ir, tamr dengan tamr, garam dengan garam, kadarnya harus semisal dan sama, harus dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenisnya berbeda, maka jualah sesuka kalian, selama dilakukan dari tangan ke tangan (kontan)

(HR. Al Bukhari, Muslim no. 1587, dan ini adalah lafadz Muslim)

Maksud dari hadits di atas apabila terjadi pertukaran dalam 6 komoditi diatas apabila jenisnya sama maka aturannya kadarnya (takaran) harus sama dan kontan, contoh pertukaran emas dengan emas (beratnya harus sama dan kontan). Apabila jenisnya berbeda seperti emas dan uang maka harus diperjual-belikan secara tunai. Mengapa dengan uang? Karena uang termasuk barang ribawi, disamakan hukumnya dengan emas dan perak karena fungsinya bisa dipakai untuk alat tukar.

“(Jual-beli) Emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai”

(HR. Muslim, Timidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu daud dan Ahmad)

Pada hadits diatas sangat jelas bagaimana apabila emas diperjual-belikan dengan yang tidak sejenis maka termasuk ke dalam transaksi riba, apabila tidak dilakukan secara tunai.

Dari Fadhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu,

“Ketika persitiwa Khaibar, Aku membeli kalung seharga 12 dinar berupa emas yang ada permatanya. Kemudian aku pisahkan, ternyata emasnya lebih dari 12 dinar. Aku sampaikan itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, perintah beliau, Jangan dijual belikan sampai dipisahkan.” 

(HR. Muslim 4160 & Ahmad 24689)

Dari hadits terakhir Rasulullah SAW diperintahkan untuk dipisahkan untuk diketahui beratnya, sehingga memungkinkan untuk dijual-belikan dengan dinar dengan kuantitas yang sama. Emas yang dimiliki oleh Fadhalah adalah kalung (bukan alat tukar), namun nabi memperlakukannya sebagai barang ribawi. (Referensi: Rumahsyo – Ustadz Ammi Nur Baits)

Fatwa DSN-MUI Terkait Pembiayaan Emas

Apakah penting Lembaga Keuangan membeli barangnya terlebih dahulu? Penting, karena tanpa adanya proses tersebut, maka pembiayaan yang dilakukan sama dengan Peminjaman Uang yang ada di Bank Konvensional. Dapat dilihat juga, apabila proses nomor 4 dihapuskan maka kalau diperhatikan skema pembiayaannya akan sama dengan Bank Konvensional dan ini merupakan transaksi Riba.

Dalam Fatwa DSN-MUI memang menyatakan bahwa pembiayaan emas yang dilakukan di Lembaga Keuangan Syariah adalah boleh. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Fatwa tersebut, antaralain:

  • Ulama empat madzhab melarang kredit emas dalam bentuk apa pun (seperti perhiasan, emas batangan dan emas sebagai alat tukar)
  • dan yang membolehkan adalah pendapat dari Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayim dan beberapa ulama kontemporer.

Ulama yang membolehkan dengan syarat bahwa yang diperjual-belikan adalah emas dalam bentuk perhiasan. Sedangankan ulama empat madzhab (Hanafi, Malik, Syafi’i dan Hambali) yang mengharamkan (melarang), ada pada keumuman hadits,

“(Jual-beli) Emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai”

(HR. Muslim, Timidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Abu daud dan Ahmad)

Apabila melihat pendapat ulama yang terdapat di Fatwa DSN-MUI, maka sebenarnya tidak ada yang memperbolehkan pembiayaan emas di Bank Syariah. Karena menurut ulama yang memperbolehkan juga, hanya membolehkan kredit emas untuk perhiasan. Dan apabila melihat hadits dari fadhalah, walau pun dalam bentuk perhiasan Nabi Muhammad SAW memperlakukannya seperti barang ribawi.

Hujjah dari Fatwa DSN-MUI lainnya adalah emas pada masa sekarang, emas tidak dipakai sebagai alat tukar sebagaimana pada masa Rasulullah SAW. Pendapat ini sedikit keliru, karena sampai sekarang emas masih menjadi alat tukar dengan bentuk uang kertas. Karena uang kertas yang kita gunakan sekarang, salah satu syarat agar bisa digunakan adalah adanya penjamin seperti emas walau pun tidak sepenuhnya dijamin.

Pinjaman Uang untuk Keperluan Konsumtif

Yang saya maksud pinjaman uang untuk keperluan konsumtif bukan mengacu pada jual-beli barang secara kredit atau murabahah, tapi murni peminjaman uang. Di beberapa Bank Syariah masih diperbolehkan peminjaman uang dengan menggadaikan sertifikat kepegawaian (seperti SK PNS) dan ini merupakan Riba, karena SK tidak bisa diperjual-belikan apabila terjadi kemacetan dan Bank Syariah tidak boleh meminta tambahan atas pinjaman tersebut.

Ada juga Bank Syariah yang mengeluarkan kartu kredit, walau pun beberapa transaksi dengan bunga 0% akan tetapi ada biaya administrasi member setiap tahunnya. Biaya administrasi ini termasuk bunga, karena tanpa biaya administrasi tahunan tersebut nasabah tidak bisa menggunakan layanan kartu kredit tersebut.

Sekian artikel tentang transaksi riba di sekitar kita, insya Allah akan di update berkala untuk artikel ini. Ada pertanyaan bisa ditanyakan di kolom komentar. Terimakasih telah membaca.

Leave a Reply

Scroll to top